kumpulkan kapas-kapas yang tersebar

Published Maret 5, 2012 by Tri Wahyuni

Assalamu’alaikum kawan..lagi gak ada ide nih mau nulis apa? karna itu kembali akan saya tulis kisah inspirasi dari Andrie Wongso aja ya seperti postingan sebelumnya
langsung saja cekidot

***

Dikisahkan ada seorang pedagang yang kaya raya dan berpengaruh dikalangan masyarakat. Kegiatannya berdagang mengahruskan dia sering keluar kota. suatu saat, karna pergaulan yang salah, dia mulai berjudi dan bertaruh. Mula-mula kecil-kecilan. Tetapi karna tidak dapat menahan nafsu untuk menang dan inggin mengembalikan kekalahannya, sipedagang semakin gelap mata. Akhirnya, uang hasil jerih payahnya selama ini banyak terkuras dimeja judi. Istri dan anak-anaknya terlantar dan mereka jatuh miskin.
Orang lain tidak ada yang tahu kebiasaannya berjudi itu. Untuk menutupi aib tersebut, dia mulai menyebar fitnah. Ia mengatakan bahwa kebangkrutannya karena orang kepercayaannya, yaitu sahabatnya, menghianati dia dan menggelapkan banyak uangnya.
Kabar itu semakin hari semakin menyebar, sehingga sahabat yang setia itu jatuh sakit. Ia menjadi sangat kurus, seperti tulang berbalut kulit saja. Mereka sekeluarga sangat menderita. Sebab, mereka dipandang penuh kecurigaan oleh masyarakat disekitarnya, dan bahkan akhirnya dikucilkan dari pergaulan.
Sipedagang tidak pernah mengira, dampak perbuatannya demikian buruk. Dia bergegas datang menjenguk sekaligus memohon maaf kepada sahabatnya. “Sobat, aku mengaku salah! tidak seharusnya aku menimpakan perbuatan burukku dengan menyebar fitnah kepadamu. Sungguh, aku menyesal dan minta maaf. Apakah ada yang bisa aku kerjakan untuk menebus kesalahan yang telah kuperbuat?”
Dengan kondisi yang semakin lemah, si sahabat berkata, “Ada dua permintaanku. Pertama, tolong ambillah bantal dan bawalah keatap rumah. Sesampainya disana, ambillah kapas dari dalam bantal dan sebarkan keluar sedikit demi sedikit.”
Walaupun tidak mengerti apa arti permintaan yang aneh itu, demi menebus dosa, sipedagang segera melaksanakan permintaan tersebut. setelah kapas habis disebar, dia kembali menemui laki-laki yang sekarat itu.
“Permintaanmu telah aku lakukan. Apa permintaanmu yang kedua?”
“Sekarang, kumpulkan kapas-kapas yang telah engkau sebarkan tadi,” kata sisahabat dengan suara yang semakin lemah. Sipedagang terdiam sejenak dan menjawab dengan sedih, “Maaf sobat,aku tidak sanggup mengabulkan permintaanmu ini. Kapas-kapas itu telah menyebar kemana-mana, tidak mungkin bisa dikumpulkan lagi.”
Dengan sisa tenaganya, si sahabat menjawab, “Begitu juga dengan berita bohong yang telah kau sebarkan. Berita itu tak kan berakhir hanya dengan permintaan maaf dan penyesalanmu saja.”
Si pedagang teertegun mendengar penuturan sahabatnya itu. “Aku tahu, engkau sungguh sahabat sejatiku. Walaupun aku telah berbuat salah yang begitu besar tetapi engkau tetap mau memberi pelajaran yang sangat berharga bagi diriku. Aku bersumpah, akan berusaha semampuku untuk memperbaiki kerusakan yang telah kuperbuat. Sekali lagi maafkan aku, sobat dan terima kasih atas pelajaranmu.” Dengan suara terbata-bata dan berlinang air mata, dipeluklah sahabatnya.

***

Dari kisah diatas,teman-teman juga pasti udah tahu kesimpulannya apa? dan juga seperti pepatah mengatakan,”fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan”.

Iklan

11 comments on “kumpulkan kapas-kapas yang tersebar

  • komentar seikhlasnya saja...!

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    MdK16

    Small Notes of Life

    B. S. Totoraharjo

    Orang Bodoh Yang Tak Kunjung Pandai

    NUSWANTORO

    4 out of 5 dentists recommend this WordPress.com site

    Aan Prihandaya

    Ordinary pictures with simple story

    From Heart to Heart

    ... mencintaimu, dengan caraku sendiri

    Cinta Indonesia

    Cintailah Indonesia agar Masuk Surga

    %d blogger menyukai ini: